Senin, 04 Juni 2012

Pemberian Obat pada Kulit

Pemberian Obat pada Kulit
Merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan bertujuan mempertahankan hidrasi, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, atau mengatasi infeksi. Pemberian obat kulit dapat bermacam-macam seperti krim, losion, aerosol, dan sprei.
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya (seperti losion, krim,aerosol, sprei).
2. Pinset anatomis.
3. Kain kasa.
4. Kertas tisu.
5. Balutan.
6. Pengalas.
7. Air sabun, air hangat.
8. Sarung tangan.

Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Pasang pengalas di bawah daerah yang akan dilakukan tindakan.
4. Gunakan sarung tangan.
5. Bersihkan daerah yang akan di beri obat dengan air hangat (apabila terdapat kulit mengeras) dan gunakan pinset anatomis.
6. Berikan obat sesuai dengan indikasi dan cara pemakaian seperti mengoleskan, mengompres.
7. Kalau perlu tutup dengan kain kasa atau balutan pada daerah diobati.
8. Cuci tangan.

2.2 Pemberian Obat Topikal pada Kulit
2.2.1 Pengertian
Pemberian obat topikal pada kulit merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan obat yang akan diberikan. Pemberian obat topikal pada kulit memiliki tujuan yang lokal, seperti pada superficial epidermis. Obat ini diberikan untuk mempercepat proses penyembuhan, bila pemberian per-oral tidak dapat mencapai superficial epidermis yang miskin pembuluh darah kapiler. Efek sistemik tidak diharapkan pada pemberian obat topikal pada kulit ini. Apabila terjadi kerusakan kulit setelah penggunaan obat topikal pada kulit, maka kemungkinan besar efek sistemik akan terjadi.2
Pemberian obat topikal pada kulit terbatas hanya pada obat-obat tertentu karena tidak banyak obat yang dapat menembus kulit yang utuh. Keberhasilan pengobatan topical pada kulit tergantung pada:
·         Umur
·         Pemilihan agen topikal yang tepat
·         Lokasi dan luas tubuh yang terkena atau yang sakit
·         Stadium penyakit
·         Konsentrasi bahan aktif dalam vehikulum
·         Metode aplikasi
·         Penentuan lama pemakaian obat
Penetrasi obat topical pada kulit, melalui: stratum korneum à epidermis à papilla dermis à aliran darah2

Proses penyerapan obat topikal jika diberikan pada kulit, yaitu:
·         Lag phase - hanya di atas kulit, tidak masuk ke dalam darah
·         Rising - dari stratum korneum diserap sampai ke kapiler dermis darah
·         Falling - obat habis di stratum korneum. Jika terus diserap kedalam, khasiatnya akan semakin berkurang
Kurangnya konsentrasi obat yang sampai ke tempat sasaran bisa karena proses eksfoliasi (bagian atas kulit mengelupas), terhapus atau juga karena tercuci.
Faktor-faktor yang berperan dalam penyerapan obat, diantaranya adalah2:
·         Keadaan stratum korneum yang berperan sebagai sawar kulit untuk obat.
·         Oklusi, yaitu penutup kedap udara pada salep berminyak yang dapat meningkatkan penetrasi dan mencegah terhapusnya obat akibat gesekan, usapan serta pencucian. Namun dapat mempercepat efek samping, infeksi, folikulitis dan miliaria jika penggunaannya bersama obat atau kombinasinya tidak tepat.
·         Frekuensi aplikasi, seperti pada obat kortikosteroid yang kebanyakan cukup diaplikasikan satu kali sehari, serta beberapa emolien (krim protektif) yang akan meningkat penyerapannya setelah pemakaian berulang, bukan karena lama kontaknya.
·         Kuantitas obat yang diaplikasi
Jumlah pemakaian obat topikal pada kulit ini harus cukup, jika pemakaiannya berlebihan justru malah tidak berguna. Jumlah yang akan dipakai, sesuai dengan luas permukaan kulit yang terkena infeksi (setiap 3% luas permukaan kulit membutuhkan 1 gram krim atau salep).
·         Faktor lain
Faktor lain seprti peningkatan penyerapan, dapat terjadi apabila:
-     Obat dipakaikan dengan cara digosok sambil dipijat perlahan
-     Dioles searah dengan pertumbuhan folikel rambut
-     Ukuran partikel obat diperkecil
-     Sifat kelarutan dan penetrasi obat diperbaiki
-     Konsentrasi obat yang diberikan tepat
Contoh obat topikal untuk kulit :
1.      Anti jamur    : ketoconazol, miconazol, terbinafin
2.      Antibiotik     : oxytetrasiklin
3.      Kortikosteroid : betametason, hidrokortison

2.2.2 Tujuan
Pemberian obat topikal pada kulit bertujuan untuk mempertahankan hidrasi atau cairan tubuh untuk mencapai homeostasis, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, menghilangkan gejala atau mengatasi infeksi. 2
2.2.3 Jenis
Pemberian obat topikal pada kulit dapat bermacam-macam seperti:
  • ·         Krim
  • ·         Salep (ointment)
  • ·         Lotion
  • ·         Lotion yang mengandung suspensi
  • ·         Bubuk atau powder
  • ·         Spray aerosol.

2.2.4 Keuntungan dan Kerugian
·         Keuntungan
Untuk efek lokal, mencegah first-pass effect serta meminimalkan efek samping sistemik.
Untuk efek sistemik, menyerupai cara pemberian obat melalui intravena (zero-order)
·         Kerugian
Secara kosmetik kurang menarik
Absorbsinya tidak menentu
2.2.5 Alat dan Bahan
-        Troli
-        Baki dan alas
-        Perlak dan alas
-        Bengkok (nierbekken)
-        Air DTT dalam kom
-        Kapas
-        Sarung tangan
-        Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan)
-        Kassa balutan, penutup plastik dan plester (sesuai kebutuhan)
-        Lidi kapas atau tongue spatel
-        Obat topikal sesuai yang dipesankan (krim, salep, lotion, lotion yang mengandung suspensi, bubuk atau powder, spray aerosol)
-        Buku obat (ISO)
-        Baskom
-        Larutan klorin 0.5% dalam tempatnya
-        Sabun cuci tangan
-        Lap handuk
-        Tempat sampah basah dan kering




Pemberian Obat via Anus/Rektum

Pemberian Obat via Anus/Rektum
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan efek lokal dan sistemik. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah feses dan merangsang buang air besar.

Contoh pemberian obat yang memiliki efej lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal untuk meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat supositoria ini diberikan tepat pada dnding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra indikasi pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
Alat dan Bahan:
1. Obat suppositoria dalam tempatnya.
2. Sarung tangan.
3. Kain kasa.
4. Vaselin/pelicin/pelumas.
5. Kertas tisu.

Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Gunakan sarung tangan.
4. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5. Oleskan ujung pada obat suppositoria dengan pelicin.
6. Regangkan glutea dengan tangan kiri, kemudian masukkan suppositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter anal interna dan mengenai dinding rektal kurang lebih 10 cm pada orang dewasa, 5 cm pada bayi atau anak.
7. etelah selesai tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu.
8. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama kurang lebih 5 menit.
9. Setelah selesai lepaskan sarung tangan ke dalam bengkok.
10. Cuci tangan.
11. Catat obat, jumlah dosis, dan cara pemberian.

Pemberian Obat per Vagina

Pemberian Obat per Vagina

Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan suppositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal.

Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Sarung tangan.
3. Kain kasa.
4. Kertas tisu.
5. Kapas sublimat dalam tempatnya.
6. Pengalas.
7. Korentang dalam tempatnya.

Prosedur Kerja:
1. Cuci tangan.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3. Gunakan sarung tangan.
4. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5. Bersihkan sekitar alat kelamin dengan kapas sublimat.
6. Anjurkan pasien tidur dalam posisi dorsal recumbert.
7. Apabila jenis obat suppositoria maka buka pembungkus dan berikan pelumas pada obat.
8. Regangkan labia minora dengan tangan kiri dan masukkan obat sepanjang dinding kanal vaginal posterior sampai 7,5-10 cm.
9. Setelah obat masuk, bersihkan daerah sekitar orifisium dan labia dengan tisu.
10. Anjurkan untuk tetap dalam posisi kurang lebih 10 menit agar obat bereaksi.
11. Cuci tangan.
12. Catat jumlah, dosis, waktu, dan cara pemberian.

Catatan: apabila menggunakan obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk krim yang tertera pada kemasan, renggangkan lipatan labia dan masukkan aplikator kurang lebih 7,5 cm dan dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan obat dan lanjutkan sesuai langkah nomor 8,9,10,11.

Pervaginam
Untuk obat ini bentuknya hampir sama atau menyerupai obat yang diberikan secara rektal, hanya saja dimasukkan ke dalam vagina.

pemberian obat dengan cara inhalasi


TERAPI INHALASI RESPIRATORY

Teknik Pemberian Obat secara Parenteral

Teknik Pemberian Obat secara Parenteral

Lima bulan yang lalu, tepatnya bulan Juli 2007 artikel suplemen mengangkat sebuahartikel mengenai teknik pengobatan via air minum atau pengobatan oral. Kesempatan kali inikami akan menyampaikan tentang teknik pengobatan parenteral yaitu pemberian obat melalui injeksi atau suntikan. Di dunia perunggasan teknik injeksi lebih familiar dipakai untuk  pemberian vaksin, terutama vaksin inaktif, sedangkan untuk pengobatan masih relatif jarang dilakukan. Kebanyakan peternak lebih memilih memberikan obat melalui air minum.Obat injeksi diartikan sebagai sediaan steril bebas pirogen (senyawa organik yang menimbulkan demam yang berasal dari kontaminasi mikrobia). Berdasar pada definisitersebut, maka syarat obat suntik adalah steril. Jika tidak steril maka bisa dipastikan bukanefek ampuh dari obat yang kita peroleh, melainkan penyakit ayam menjadi semakin parah.Kondisi steril tentu saja tidak hanya pada sediaan obat yang kita gunakan tetapi alat suntik yang kita gunakan juga harus dalam kondisi steril.Sediaan obat injeksi dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu larutan, suspensi dan emulsi.Bentuk sediaan obat injeksi berupa larutan yang relatif encer akan lebih cepat diabsorpsi(diserap) dalam tubuh dan menghasilkan efek terapi yang lebih cepat dibandingkan bentuk suspensi dan emulsi.Teknik parenteral mungkin jarang digunakan, namun pada kondisi tertentu teknik  pengobatan ini sangat diperlukan. Pada umumnya teknik ini dilakukan guna memperolehkerja obat yang cepat, misalnya saat kondisi ayam parah dimana nafsu makan dan minumturun. Selain itu bisa disebabkan sifat zak aktif dari obat yang bisa rusak atau tidak efektif  jika diberikan via oral (air minum, ransum).

Jenis Teknik Pengobatan Parenteral

Dalam dunia kedokteran, obat dapat disuntikkan ke dalam hampir seluruh organ atau bagian tubuh, termasuk sendi, ruang cairan sendi, tulang punggung bahkan dalam kondisigawat dapat disuntikkan dalam jantung. Lain halnya dalam dunia perunggasan, teknik injeksiyang biasanya diaplikasikan adalah suntikan intramuskuler dan subkutan.Lokasi penyuntikan obat yaitu intramuskuler (IM), intravena (IV) dan subkutan (SC)

 

Suntikan  intramuskuler Injeksi intramuskuler dilakukan dengan memasukkan obat ke dalam otot (daging).Obat tersebut selanjutnya akan terabsorpsi ke pembuluh darah yang terdapat pada otot.Tempat penyuntikkan sebaiknya sejauh mungkin dari syaraf-syaraf utama atau pembuluhdarah utama. Selain itu, hendaknya dipilih otot dengan suplai pembuluh darah dankontraksi (pergerakan) otot yang banyak. Pada ayam, lokasi penyuntikan intramuskuler  biasanya dilakukan pada otot dada (pectoral ) atau otot paha (femur ). 
Aplikasi ini harus dilakukan dengan hati-hati dengan memperhatikan titik tempat jarum ditusukkan dan di mana obat ditempatkan. Jika terjadi kesalahan maka bisamengakibatkan terjadinya paralisis akibat rusaknya syaraf, abses, kista, emboli, hematommaupun terkelupasnya kulit. Produk yang diberikan secara intramuskuler antara lain



Gentamin, Vet Strep atau Injeksi Vitamin B Kompleks. Suntikan intramuskuler di bagian dada dan paha. Perhatikan kemiringan jarum suntik,sebaiknya ± 30o.y


Suntikan subkutanSedikit berbeda dengan suntikan intramuskuler, lokasi penyuntikan subkutan beradadi bawah permukaan kulit (di antara daging/otot dengan kulit) dan untuk ayam biasanyadipilih lokasi penyuntikan di leher bagian belakang sebelah bawah. Kulit leher ayamdicubit sehingga lebih memudahkan dalam penyuntikan. Apabila di sekitar leher ayam basah, itu menandakan bahwa obat yang disuntikkan tidak masuk sempurna ke bawahkulit.Suntikan subkutan di leher bagian bawah. Hati-hati dengan syaraf yang terdapat di leher 








 









 Obat yang diaplikasikan dengan suntikan subkutan adalah obat yang tidak mengiritasi jaringan kulit. Setelah obat disuntikkan ke bawah kulit, obat akan berdifusi dicairan antar sel kulit, kemudian terabsorpsi ke pembuluh darah. Efek pengobatan denganteknik ini relatif lebih lambat (efek depo atau sustained effect ) jika dibandingkan dengan suntikan .Volume obat yang disuntikan dengan teknik ini relatif lebih kecil daripada jumlahobat yang diberikan secara intramuskuler. Obat-obat yang bisa mengiritasi sebaiknyatidak diberikan dengan suntikan subkutan karena dapat memicu timbulnya rasa sakit,lecet atau abses dan rasa nyeri. Saat melakukan pemberian obat dengan teknik suntikan subkutan di daerah leher harus dilakukan secara hati-hati karena pada bagian ini juga terdapat syaraf dan jikaterkena dapat  menyebabkan ayam tortikolis bahkan kematian


Kelemahan dan Kelebihan Parenteral

 Aplikasi pengobatan parenteral tentu saja mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya :


Memerlukan ketrampilan khususTidak setiap orang atau personal kandang mampu mengaplikasikan teknik  pengobatan ini. Hal ini disebabkan teknik ini membutuhkan ketrampilan khusus,diantaranya mengetahui anatomi tubuh ayam maupun teknik penyuntikan yang baik.